Senin, 23 September 2019

Kesalahpahaman bahasa

Kesalahpahaman bahasa
    Ini sedikit cerita tentang pengalaman bahasa yang pernah aku alami, bahasa yang didengar sama kata,sama pengucapan atau sama tulisan namun beda arti dengan bahasa orang di kampung atau di kabupaten sebelah. Aku pernah mengalami hal itu, jadi istri pamanku itu orang Dayak asal dari Pahauman Kab.Landak baru beberapa hari tinggal di Ambawang, hari itu aku sedang berada dirumahnya di Ambawang ketika itu dia lagi mau memasak lalu dia menyuruh untuk mengambilkan sesuatu,
Tante: "cii taap'atn tante sampo" (ci ambilkan tante sampo)
Aku: "ok", sambil mengambil sampo lalu menyodorkan kearah tanteku itu, spontan ekspresi wajahnya berubah kebingungan
Aku: "diahe te?" (Kenapa te?) 
Tante: "sampo bah ci untu' basuman, buke sampo nang nia" (sampo ci untuk memasak bukan shampo yang ini)
Aku: heh?, Muka bingung
Tante: "niaa ha nang nia bah", sambil mengangkat panci itu kearahku.
Aku: "lahhh kan nang koa panci te buke sampo, sampo koa untu' bagunse" (lah kan yang itu panci te bukan shampo, kalau shampo untuk keramas), jawabku sambil tertawa
Tante: "ka kampokng kami nang nia koa namanya sampo" (di kampung tante ini namanya panci), sambil mengangkat panci itu. Dan setelah itu saya pun spontan tertawa, sampai tanteku menatapku sinis hehe. Seingatku hanya itu pengalaman salah paham bahasa yang aku alami di Pontianak
   Lain halnya dengan pengalamanku di Sulawesi, waktu itu aku masih belajar bahasa bugis, jadi aku mau bercerita pada pamanku kalau dijalan tadi aku kehujanan aku bercerita kalau aku singgah berteduh,
Aku : "behh om singgah ka tadi macinnong di SPBU" seketika pamanku tertawa, aku bingung kenapa dia tertawa lalu,
Aku: "kenapa tertawa om? Ada yang salah?"
Paman: "ci maccinong dan macinnong itu beda, kalau maccinong itu berteduh tapi kalau macinnong itu bening. Nah tadi kamu bilang kalau kamu singgah macinnong berarti kamu singgah bening".
Aku diam mencermati apa yang dikatakan om ku, setelah itu baru aku sadar ternyata aku salah menggunakan huruf N dan huruf C.
  Hari itu dikelas disaat semunya sudah datang eh ada temanku yang terlambat padahal biasanya dia tidak pernah terlambat, lalu aku bicara pada teman disamping
Aku: "eh itu saiful ndak pernah ji terlambat, balala na begini deh", temanku yang orang Makassar  kebingungan lalu dia bertanya
Teman: "kenapa to seng na balala ci?"
Aku: "iyaa ndak biasanya begini" Teman:"iyaa massuku saya kenapa na mu bilang balala i?"
Aku:"ya kan dia jarang terlambat, balala na tuh"
teman:"apa memang artinya balala dalam bahasa bugis ci?"
Aku: " ya jarang", teman saya tepok jidak lalu bicara
Teman: "serius nah ci bingung ka apa tadi mubilang kenapa malah balala mu bilang"
Aku: "kenapa memang kah?"
Teman: "cii kalo balala disini artinya Rakus".
Aku baru sadar kenapa tadi temanku kebingungan ternyata bahasa ku memang tidak nyambung jika dipakai di Makassar.
   Nah kadang kita lupa saat menggunakan bahasa kita ditempat umum atau ditempat lain, yang ternyata ditempat itu ada kata yang sama namun beda makna. Itulah alasan kenapa kita harus bisa berbahasa Indonesia karena kita tinggal di Negara yang beragam suku bangsa dan beragam bahasa dengan adanya bahasa negara atau bahasa kesatuan akan mempermudah komunikasi dan mengurangi terjadinya kesalahpahaman. Sekian cerita pengalaman kesalahpahaman bahasa dariku,
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh😊
 
 
 


Senin, 16 September 2019

Kampung halaman dengan berbagai ragam

Ini tentang Kampung Halamanku.
 Dusun Lintang Batang, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat itu adalah tempat dimana istanaku berada.
  Aku pernah tinggal ±4 tahun di Sulawesi Selatan tapi setiap hari aku seakan merindukan kampung ku, kenapa? Karena disana aku menemukan kedamaian, rasa solidaritas, keberagaman, dan banyak lagi.
  Kampungku adalah kampung yang dimana penduduknya mayoritas orang Dayak, namun tak sedikit ada pendatang yang kemudian menikah dan menetap disana jadi sekarang di kampungku kalian akan menjumpai banyak orang dengan suku Bugis, suku Jawa, suku Madura, atau Tionghoa.
  Keberagaman suku itu tidak melunturkan budaya Dayak yang sudah melekat di hidup penduduk-penduduknya apalagi penduduk yang sudah lansia, salah satu budaya yang ada di kampungku yaitu acara syukuran baik syukuran seperti apapun nama acara itu ialah Tampukng Tawar, atau acara yang dilakukan setelah 3 hari pemakaman yaitu acara Niga Ari atau Ngalapasi'.
  Di kampungku sangat taat dengan hukum adat, apabila ada masalah yang mencoreng nama kampung maka orang yang membuat masalah tersebut harus menerima hukuman adat yang diberikan, dan dikampungku pula orang Dayak dikenal dengan orang yang beradat karena apapun yang dilakukan itu harus beradat, beradat seperti bagaimana seharusnya perlakuan atau sopan santun orang yang muda kepada yang lebih tua. Ada banyak adat dan budaya dikampungku.
  Bahasa Dayak yang digunakan dikampungku adalah Dayak Ba Ahe atau biasa orang sebut Dayak Kanayatn.
  Salah satu yang aku suka dari kampungku adalah rasa saling solidaritas antar sesama yang beragama atau suku yang berbeda, saling kerja sama, saling membantu, saling peduli itu sangat dijunjung tinggi oleh orang-orang dikampungku.
  Tentang mata pencarian atau pekerjaan orang-orang dikampungku sedikit miris, kenapa aku katakan seperti itu? Karena dikampungku sekarang susah untuk mencari pekerjaan tetap. Mau menoreh pohon karet sekarang karet dihargai sangat murah, adapun yang masih noreh hanya sebagian orang saja, mau berladang atau berkebun sekarang ladang mulai di alih fungsikan sebagai lahan untuk membangun sutet dan sebagainya, mau bertani juga sangat susah dibelakang rumah tanah nya tergolong tidak cocok untuk dijadikan lahan bertani kalaupun mau bertani perlu ke seberang sungai ambawang yang jaraknya lumayan jauh dari jalan raya dan pemukiman, karena hal itu tidak jarang berbagai macam hama menyerang tanaman para petani. Ada pula beberapa orang yang beruntung bisa bekerja di perusahaan sawit namun peluang itu minim bagi masyarakat dikampungku, alasannya karena pendidikan lah. Padahal kalau mereka membangun perusahaan di tanah masyarakat yang mereka beli tapi sebelum itu mereka berjanji bahwa membangun perusahaan juga sebagai lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal, namun tidak sesuai janji masyarakat berbicara tidak dihiraukan.
  Sisi unik dari masyarakat dikampungku yaitu pekerjaan musiman seperti beberapa bulan kemarin tiba-tiba ada orang China dari singkawang yang memberitahu masyarakat bahwa dia mau mencari atau membeli duri dari tanaman kait-kait ia berani membeli duri itu dengan harga Rp.35.000,-/Kg. Karena berita itu orang yang ditemui orang China itu  mulai menyebarkan kepada masyarakat lain bahwa tanaman kait-kait itu harganya lumayan besar, esok hari nya masyarakat beramai-ramai mencari tanaman kait-kait itu, mereka saling bekerja sama, saling membantu, dan tentunya saling menjaga dan melindungi. Karena tanaman itu hanya ditemui di hutan atau di kebun yang sudah ditumbuhi pohon-pohon besar, mereka akan bergotong royong untuk mendapatkan tanaman itu. Pada waktu itu memang sangat ramai orang-orang menjadikan itu sebagai mata pencarian mereka namun lama kelamaan orang yang membeli tanaman itu mulai menyudahi jual beli itu dengan alasan mereka sudah sangat banyak menerima pasokan dari masyarakat dan juga tanaman itu sudah mulai susah untuk dicari. Alhasil masyarakat kembali memutar otak bagaimana caranya mereka punya pekerjaan tetap.
  Kampungku bukanlah kampung yang ada dipelosok atau didaerah pegunungan, tapi kampungku berada di daerah yang tidak jauh dari kota dan bahkan dilalui jalan Trans Kalimantan, setiap hari di depan rumah kami lewat mobil-mobil atau bus-bus besar baik yang berasal dari luar kota maupun luar negeri.
  Untuk kampungku semoga bisa menjadi kampung yang diimpikan masyarakatnya

Senin, 09 September 2019

Tentang Saya

Haii.
   
  Ini tentang saya :) Pertama pasti yang diperkenalkan itu siapa nama, iyakan? nah kenalin nama saya SUCI AMALIA PRATIWI, kalian bisa panggil saya Cici, Uci, atau Suci.
  Saya lahir di Pontianak, 14 Februari 2001. Alamat saya di Desa Teluk Bakung, Kec. Sungai Ambawang. Kalau kata teman saya dan saya juga sedikit setuju dengan teman saya yang mengatakan kalau hobi saya itu rebahan hehee, tapi sebenarnya saya lebih suka membaca novel dan nonton film.
  Riwayat pendidikan SD dan SMP di Sungai Ambawang, lanjut SMA di Wajo Sulawesi Selatan dan tamat SMA di tahun 2018. Setelah tamat SMA mencoba untuk lanjut ke jenjang perguruan tinggi atau kuliah, lalu mencoba beberapa jalur masuk seperti SNMPTN, SPAN, dan SBMPTN di tahun 2018.
  Jalur SNMPTN dan SPAN rata-rata pilih jurusan yang mengarah ke kesehatan karena keinganan ayah dan juga saya lebih suka kesehatan tapi ternyata ibu saya gak setuju dan alhasil saya gak lolos di kedua jalur masuk itu, ternyata ibu saya lebih ingin saya jadi guru sedangkan saya gak suka jadi guru. Tapi karena saya putus asa karena gagal dijalur SNMPTN dan SPAN, saya mencoba daftar SBMPTN dan memilih Universitas Negeri Makassar adapun jurusan yang saya pilih yaitu :
1. Pendidikan IPA
2. Pendidikan Kimia
seminggu sebelum ujian SBMPTN setiap hari saya pelajari materi kimia, fisika, biologi di SMA dan contoh-contoh soal saintek tahun-tahun sebelumnya yang saya dapat di internet.
  Setelah ujian SBMPTN esok hari nya saya berangkat ke rumah di Pontianak, ketika pengumuman SBMPTN keluar saya masih di Pontianak ternyata keluarga yang di Makassar sudah mengetahui bahwa saya lulus SBMPTN di jurusan Pendidikan IPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Makassar dan spontan mereka langsung menghubungi saya agar kembali ke Makassar untuk persiapan berkas-berkas yang diperlukan. Orangtua dan keluarga di Pontianak mengizinkan saya untuk kembali lagi ke Makassar untuk kuliah.
   Saya kembali ke Makassar, ikut berbagai kegiatan seperti Ondesk kampus, PMB Universitas, PMB fakultas, PMB Prodi Pend.IPA, dan saya resmi jadi mahasiswa UNM 2018 serta kuliah perdana tanggal 20 agustus 2018 di prodi Pend.IPA, FMIPA, UNM.
   Kuliah saya jalani selama 1 semester. Kuliah, praktikum, kerja laporan, UTS, UAS, event-event prodi, kegiatan prodi, sudah dilewati selama 1 semester itu hingga tiba hasil nya Alhamdulillah ipk nya 3.78 cukup memuaskan. Libur pun tiba, tanggal 22 desember 2018 saya pulang ke Pontianak sekalian kumpul-kumpul sama orangtua, adek, juga keluarga besar ibu. Tanggal 22 januari 2019 berencana untuk kembali ke Makassar, tapi terjadi bencana tanah longsor dan banjir bandang di Gowa tidak jauh dari kampus dan kos saya, yang pada akhirnya membuat saya dan keluarga takut dan ragu untuk mengizinkan saya kembali ke Makassar.
   Alhasil saya berhenti kuliah di UNM, namun saya masih berkeinginan untuk kuliah dan keluarga saya tetap mendukung saya hingga akhirnya di bulan mei saya mencoba untuk mendaftar UM-PTKIN dan Alhamdulillah Allah masih memberi saya kesempatan untuk kuliah saya lulus di Prodi Pend. Agama Islam, FTIK, IAIN pontianak.
Saya berharap bisa tetap bertahan dan lulus di IAIN Pontianak, sekian dari saya terima kasih😁