Minggu, 01 Desember 2019

Ulasan Buku Penulis asal Kalimantan Barat

Nama: Suci Amalia Pratiwi
NIM: 11901225
Kelas: PAI 1/D


Resensi Buku

Judul Buku: Naskah Kuno Al-Waqiah Al Sulthaniyyah
Penulis: Lukman Abdul Jabbar, Ahmad Jais, dan Rahmap
Penerbit: IAIN Pontianak Press
Tahun Terbit: 2016
Tebal Halaman: 138

Rangkuman:
naskah kuno yang luar biasa di dapatkan informasi bahwa pada masa Kesultanan berkuasa terlebih pada masa Kesultanan Syarif Kasim Bin Abdurrahman alkadrie dan Syarif Usman Bin Badurrahman alkadrie diketahui bahwa keterhubungan yang kuat antara kolonial Belanda dan Sultan Pontianak, jalinan yang baik antar penguasa pribumi masa lalu dan kolonial Belanda, keterjalinan hubungan yang kuat dengan keterikatan pihak Kesultanan yang menerima gaji dari pihak kolonial Belanda, adanya penghormatan dan ketergantungan yang kuat kepada pihak Belanda, dan secara simbolis dapat menjadi penguat untuk membangun kembali hubungan yang baik antara Pemerintahan Pontianak-Indonesia dan Belanda dalam bentuk yang berbeda kini tentunya, yang juga merupakan simbol yang dapat dijadikan dasar untuk kerjasama yang baik dan harmonis antar kedua pihak.

Kelebihan:
1. Buku ini menarik untuk dibaca karena didalamnya dilengkapi dengan gambar atau dokumentasi dari potongan atau salinan naskah kuno.
2. Dari buku ini didalamnya kita bisa mengetahui dan mempelajari langkah-langkah kerja penelitian filologi.
3. Di dalam buku ini pula kita bisa menemukan langkah-langkah dalam meneliti naskah yang dimana digunakan berbagai metode , seperti : metode intuisi, metode landasan, metode gabungan, metode objektif, suntingan teks, dan aparat kritik serta terjemahan.

Kekurangan:
1. Sistematika atau susunan perjudul letak tulisannya tidak rapi.
2. Gambar yang dicantumkan buram bahkan ada yang tidak jelas sama sekali untuk dilihat.




Selasa, 15 Oktober 2019

Resume Sistematika Penulisan Skripsi

Nama: Suci Amalia Pratiwi
NIM: 11901225
Prodi: Pendidikan Agama Islam
Kelas: 1/D

Sampul Judul:
PEMBELAJAAN KITAB KUNING DENGAN METODE BANDONGAN DAN SOROGAN DI PONDOK PESANTEN AL-ASY’ARIYYAH SIANTAN TENGAH PONTIANAK UTARA TAHUN PELAJARAN 2016.

SKRIPSI

Oleh:

BUSRI
NIM: 1101110656
Motto:
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (5). Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (6). Maka apabila kau telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (7). Dan hanya kepada Tuhanmu hendaknya kamu berharap (8).”

Sesali masa lalu karena ada kekecewaan dan kesalahan-kesalahan tetapi dijadikan penyesalan itu sebagai senjata untuk masa depan agar tidak tejadi kesalahan lagi.

Abstrak :
 BUSRI. “Pembelajaran Kitab Kuning dengan Metode bandongan dan sorogan di Pondok Pesanten Al-Asy’ariyyah Siantan Tengah Pontianak Utara Tahun 2016.” Pontianak : Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, 2016.
Penelitian ini dilatar belakangi oleh masalah yaitu cara mengajar masih sering menggunakan metode ceramah sehingga murid kurang aktif, menjadikan pembelajaran yang monoton dan membuat aktivitas siswa tidak berkembang. Pembelajaran kitab kuning dengan metode bandongan dan sorogan di Pondok Pesantren Al-Asy’ariyyah Siantan tengah Pontianak Utara Tahun 2016 tepatnya di kelas 4. Karena kitab kuning merupakan kitab yang pokok dalam pondok pesantren, dimana santri dididik untuk bisa membaca kitab kuning dengan metode yang sering digunakan dikalangan pondok pesantren yaitu: metode bandongan dan sorogan, dengan metode-metode tersebut apakah santri bisa memahami isi dari materi pembelajaran kuning yang disampaikan oleh ustadz tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1). Bagaimana perencanaan pembelajaran kitab kuning dengan metode bandongan dan sorogan di pondok pesanten Al-Asy’ariyyah Siantan Tengan Pontianak Utara 2016, (2). Bagaimana pelaksanaan pembelajaran kitab kuning dengan metode bandongan dan sorogan di pondok pesanten Al-Asy’ariyyah Siantan Tengan Pontianak Utara 2016, (3). Bagaimana evaluasi pembelajaran kitab kuning dengan metode bandongan dan sorogan di pondok pesanten Al-Asy’ariyyah Siantan Tengan Pontianak Utara 2016.
Metode yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Setting penelitian ini dilakukan di pondok pesantren Al-Asy’ariyyah Siantan Tengan Pontianak Utara 2016. Untuk memperoleh data yang berkaitan dengan focus peneletian, peneliti memilih tehnik wawancara, diperkuat dengan observasi dan dokumentasi. Untuk tehnik alasis data peneliti menggunakan empat tehnik, yaitu : reduksi data, penyajian data, verifikasi dan penarikan kesimpulan. Sedangkan tehnik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi dan member chek.
Dari hasil paparan dan analisis data, peneliti dapat menyimpulkan berikut ini: (1). Perencanaan awal pembelajaran kitab kuning dengan metode bandongan dan sorogan di pondok pesanten Al-Asy’ariyyah adalah para agus/ustadz bermusyawarah terdahulu secara bersama materi yang akan diajarkan baik itu dari segi ilmu nahwu dan sorropnya, (2). Pelaksanaan pembelajaran kitab kuning dengan metode bandongan dan sorogan di pondok pesanten Al-Asy’ariyyah adalah pelaksanaan pembelajaran kitab kuning setelah diawali dengan pembukaan, pembelajaran dilanjutkan pembahasan materi yang telah diajarkan kepada santri. Ustadz membaca materi tersebut dengan suara sekiranya para santri mendengar suara pembahasan materi yang akan ustadz ajarkan sampai selesai, (3). Evaluasi pembelajaran kitab kuning dengan metode bandongan dan sorogan di pondok pesanten Al-Asy’ariyyah adalah Evaluasi tes, yaitu tes lisan dan tulisan.

Daftar isi:
ABSTRAK i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR LAMPIRAN viii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Fokus Penelitian 4
Tujuan Penelitian 5
Manfaat Penelitian 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA
Penelitian Terdahulu 8
Perencanaan Pembelajaran 9
Pengetian Pembelajaran 9
Dasar Perlunya Perencanaan dan Pembelajaran 10
Tujuan Perencanaan dan Pembelajaran 10
Manfaat Perencanaan dan Pembelajaran 11
Pembelajaran Kitab Kuning 12
Pengertian Pembelajaran 15
Pengertian Kitab Kuning 17
Jenis Kitab Kuning 17
Jenjang Pembelajaran Kitab Kuning 18
Metode Pembelajaran Kitab Kuning 19
Jenis-jenis Metode Pembelajaran 21
Pengertian Pondok Pesantren 32
Ciri-Ciri Pondok Pesantren 33
Unsur-Unsur Pondok Pesantren 34
Perkembangan Pondok Pesantren 38
BAB III METODE PENELITI
Pendekatan dan Metode Penelitian 41
Alokasi dan Waktu Penelitian 41
Penentuan Sumber Data Penelitian 42
Teknik dan Alat Pengumpulan Data 43
Teknik Analisi data 45
Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data 46
BAB IV PAPARAN DATA TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Paparan Data 48
Gambaran Umum Lokasi Penelitian 48
Temuan Penelitian 54
Paparan Data Penelitian 55
Pembahasan 59
Perencanaan Pembelajaran Kitab Kuning 60
Pelaksanaan Pembelajaran Kitab Kuning 61

Kutipan:
1. Menurut Jusuf Enoch (1992:1) perencanaan dalam arti yang sederhana dapat dijelaskan sebagai suatu proses mempersiapkan hal-hal yang akan dikerjakan pada waktu yang akan datang untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu.

2. Menurut Poerwadarminta (1976:553), pelaksanaan beasal dari kata “laksana” yang berarti sifat, tanda, laku, dan perbuatan. Sedangkan pelaksanaan adalah perihal, pembuatan usaha.

3. Menurut Supardi (2010:1), perencanaan merupakan penyusunan langkah-langkah kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Suatu perencanaan sapat disusun berdasarkan jangka waktu tertentu yaitu jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek.

4. Selanjutnya pembelajaran dapat diartikan sebagai proses interaksi antara peerta didik dan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku kea rah yang lebih baik (Kunandar, 2009:287)

5. Menurut Ahmad Tafsir (2003:7) dengan mengutip pendapat Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa pembelajaran (onderwijs) itu tidak lain tidak bukan ialah salah satu dari bagian pendidikan.

6. Selain juga disebut qutub al-qadimah (kitab-kitab klasik) karena kitab-kitab ini ditulis lebih dari 100 tahun lalu, ada juga yang menyebutnya kitab kuning, melihat karena kitab itu ditulis diatas kertas berwarna kuning dengan huruf-huruf yang digunakan beraksara Arab gundul “tanpa harakat atau syakal” (Makmum, 2003:31).

7. Jelasnya perjenjangan pendidikan pesantre tidak tidak didasarkan usia tetapi berdasarkan penguasaan kitab-kitab yang telah ditetapkan dari paling rendah sampai paling tinggi (Dirjen Pendidikan Keagamaandan Pondok Pesantren, 2004:150).

8. Kyai membaca, menerjemah, menerangkan, dan sekaligus mengulas teks-teks kitab berbahasa Arab tanpa harakat (gundul) santri memegang kitab yang sama masing-masing melakukan pendhabithan harakat kata langsung dibawah kata yang dimaksud agar dapat membantu memahami isi teks (Armai Arief, 2002:155-156).

9. Menurut Fiedler (Masyud dan Khurnurdilo, 2003:24) Pemimpin sebagai individu dalam kelompok yang diberi tugas untuk mengarahkan dan mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas kelompok yang terkait dengan tugas.

10. Lafland dan Lafland sebagaimana dikutip oleh (Lexy J. Moleong, 2001:112) menyatakan bahwa sumber data ulama dalam penelitian kualitatif ialah benda-benda dan tindakan, selebihnya adalah tambahan.

Daftar Pustaka:
Ahmad Tafsir. 2003. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Bandung: PT. Rosda Karya

Armai arief. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Ciputat Press

Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam/ Direktorat Pendidikan Keagamaan dan
Pondok Pesantren. 2004. Profil Pondok Pesantren Mu’adalah. Jakarta: Ht. Santosa

Jusuf Enoch. 1992. Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Kusnandar. 2009. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) dan Satuan Dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Press

Lexy J. Moloeng. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya

M. Sultan Masyud & Khusnurdilo. 2003. Manajemen Pondok Pesantren. Jakarta: Diva Pustaka

Maksum. 2003. Pola Pembelajaran di Pesantren. Jakarta: Depag RI

Supardi, Darwyan. 2010. Perencanaan Pendidikan Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Diadit Media

W.J.S Poerwadarminta. 1989. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara





Selasa, 08 Oktober 2019

Observasi Prinsip dan Penggunaan EYD

Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh.
Sekarang ini banyak kesalahan atau kekeliruan yang terjadi di lingkungan masyarakat yang dipajang di tempat umum, contohnya penulisan pada spanduk, famplet, papan nama toko atau klinik, maupun papan pengumuman. Dalam hal ini saya mengumpulkan 10 foto yang saya analisis kekeliruan penulisannya yang saya dapatkan di tempat umum, yaitu :












Tempat : Tempat wudhu, Kampus IAIN Pontianak
Waktu : Selasa, 1 Oktober 2019 pukul 11.30 WIB
Analisis : Dari gambar yang saya temukan ada satu kealahan kecil yang tidak terlihat secara sekilas yaitu pada penggunaan tanda petik (“) dalam hadist yang disertakan pada gambar, letak kesalahannya yaitu diakhir kalimat hadist setelah tanda titik tidak terdapat tanda petik penutup, adapun tanda petik setelah tanda titik itu seperti terkhusus untuk nama perawi. Seharusnya untuk nama hadist tidak perlu menggunakan tanda petik cukup dengan tanda kurung.
Sumber : Buku EYD
Penyusun : M.K. Abdullah, S.Pd
Penerbit : Sandro Jaya Jakarta













Tempat : Masjid A. Rani IAIN Pontianak
Waktu : Selasa, 1 Oktober 2019 pukul 11.30 WIB
Analisis : Setiap saya ada di Masjid dan duduk dibagian depan papan penghalang ini, saya selalu terfokus pada tulisan ini, karena penulisannya yang sangat tidak tepat seperti pada kata “makai” itu bahasa yang tidak baku seharusnya kata itu diberi imbuhan jadi kata “memakai”, lalu penulisan kata “silahkan” yang baku yaitu “silakan”, kemudian penggunaan kata “selesai” seharusnya menggunakan kata “setelah”, lalu penulisan kata “di simpan” seharusnya tanpa imbuhan “di”, dan terakhir untuk kata “di tempatnya” itu lebih baik memakai kata penghubung “pada”, maka penulisan yang tepat dan tidak betele-tele jika dibaca yaitu “SETELAH MEMAKAI MUKENA SIMPAN PADA TEMPATNYA KEMBALI SUPAYA TIDAK BAU”
Sumber : 1. Kamus Besar Bahasa Indonesia digital
 2. Buku EYD
Penyusun : M.K. Abdullah, S.Pd
Penerbit : Sandro Jaya Jakarta












Tempat : Ma’had Al Jamiah IAIN Pontianak
Waktu : Selasa, 1 Oktober 2019 pukul 15.45 WIB
Analisis : Dari kalimat himbauan di kertas itu yang perlu dikoreksi ialah jika memang penulisan ini disengaja menggunakan huruf kapital pada setiap kata maka seharusnya penggunaan huruf kapital pada setiap huruf pertama digunakan secara merata kecuali pada setiap kata penghubung, namun pada gambar itu ada beberapa kata tidak menggunakan huruf pertama dan itu bukan kata penghubung seperti pada kata “pastikan, masing-masing, sekitar, depan, kembali, keadaan, bagi”, lalu yang perlu dikoreksi ialah penggunaan kata yang tidak baku “kran” seharusnya “keran” dan kata “colokkan” sehausnya “colokan”, kemudian kekeliruan lainnya dari tulisan itu ialah tidak ada spasi antara tanda koma (,) dan kata selanjutnya seperti “ di kamar,kran air,colokkan” menurut penulisan yang benar dan EYD  seharusnya “di kamar, keran air, colokan”.
Sumber : 1. Kamus Besar Bahasa Indonesia digital
 2. Buku EYD
 Penyusun : M.K. Abdullah, S.Pd
 Penerbit : Sandro Jaya Jakarta












Tempat : Ma’had Al Jamiah IAIN Pontianak
Waktu : Selasa, 1 Oktober 2019 pukul 15.15 WIB
Analisis : Dari tulisan diatas yang perlu dikoreksi yaitu pada setiap poin-poin seharusnya diakhir kalimat diberi tanda titik koma (;) dan pada poin terakhir atau poin keempat seharusnya diakhiri dengan tanda titik (.) kemudian karena itu adalah kalimat perintah seharusnya ada tambahan tanda seru (!) pada kata “perhatian” menjadi “Perhatian !”
Sumber : Buku EYD
Penyusun : M.K. Abdullah, S.Pd
Penerbit : Sandro Jaya Jakarta
















Tempat : Ma’had Al Jamiah IAIN Pontianak
Waktu : Selasa, 1 Oktober 2019 pukul 15.10 WIB
Analisis : Pada gambar diatas tulisan yang perlu dikoreksi yaitu penggunaan kata “dijual” yang seharusnya menggunakan kata “menjual”, pada poin kedua ada terdapat tanda sama dengan (=) seharusnya tidak perlu, penggunaan huruf kapital diakhir kata pada kata “teluR” seharusnya tidak menggunakan huruf kapital cukup “telur”, penulisan kata “masako0” yang tidak tepat karena ada angka 0 seharusnya “masako” tanpa ada angka nol, kurangnya huruf vokal “e” pada penulisan kata “smbal terasi”, dan yang terakhir susunan tulisan yang tidak rapi.
Sumber : Buku EYD
Penyusun : M.K. Abdullah, S.Pd
Penerbit : Sandro Jaya Jakarta
Alamat : Ma’had Al Jamiah IAIN Pontianak
Waktu : Rabu, 2 Oktober 2019 pukul 15.35 WIB
Analisis : Pada tulisan Visi dan Misi Ma’had Al Jamiah hanya satu yang yang saya temukan kesalahannya yaitu pada poin Visi tidak diakhiri dengan tanda titik, dan untuk yang lainnya sudah sempurna baik dalam penggunaan bahasa yang baku serta tanda baca sesuai.
Sumber : Buku EYD
Penyusun : M.K. Abdullah, S.Pd
Penerbit : Sandro Jaya Jakarta.















Alamat : Jl. W.R. Supratman No.46
Waktu : Rabu, 2 Oktober 2019 pukul 16.00 WIB
Analisis : Kesalahan yang didapat dari papan Klinik yaitu penggunaan huruf kapital yang tidak tepat, seharusnya pada kata penghubung tidak perlu di kapital. Kekeliruan lainnya yaitu pengunaan titik dua (:) pada keterangan jam misalnya “jam : 07.30 - 13.00” seharusnya “ jam 07.30 – 13.00”.
Sumber : Buku EYD
Penyusun : M.K. Abdullah, S.Pd.
Penerbit : Sandro Jaya Jakarta














Alamat : Jl. W.R. Supratman No.46
Waktu : Rabu, 2 Oktober 2019 pukul 16.00 WIB
Analisis : kesalahan yang didapat dari papan Klinik ini yaitu kurangnya penggunaan tanda baca titik koma (;) pada akhir kalimat disetiap poin dan kurangnya tanda titik (.) pada kalimat akhir di poin terakhir, dan untuk yang lainnya sudah cukup baik.
Sumber : Buku EYD
Penyusun : M.K. Abdullah, S.Pd
Penerbit : Sandro Jaya Jakarta













Alamat : Jalan Tanjung Pura
Waktu : Senin, 7 Oktober 2019 pukul 09.40 WIB
Analisis : Seringkali kita temui yang seperti ini dan tekadang membuat kita bingung mana yang sebenarnya yang benar penulisannya dan menurut saya kesalahan dari penulisan itu yaitu pada kata “Apotik” karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan EYD penulisan yang baku itu seharusnya “Apotek”.
Sumber : 1. Kamus Besar Bahasa Indonesia digital
2. Buku EYD
Penyusun : M.K. Abdullah, S.Pd
Penerbit : Sandro Jaya Jakarta


Alamat : Jalan H. Agus Salim No. 170
Waktu : Senin, 7 Oktober 2019 pukul 09.30 WIB
Analisis :  Menurut saya kesalahan dari Plang Toko itu ialah keterangan toko itu, seperti kalimat “Berdagang alat2 rumah tangga dan furniture, lampu hias dst” penggunaan kata “berdagang pada kalimat itu tidak pas dan seharusnya yang digunakan disitu adalah kata “menjual” lalu yang termasuk kesalahan dari kalimat itu penggunaan bahasa inggris yang digabungkan dengan bahasa Indonesia padahal kata “Furniture” itu lebih mudah dipahami dengan kata “Mebel”.
Sumber : Buku EYD
Penyusun : M.K. Abdullah, S.Pd
Penerbit : Sandro Jaya Jakarta

Senin, 23 September 2019

Kesalahpahaman bahasa

Kesalahpahaman bahasa
    Ini sedikit cerita tentang pengalaman bahasa yang pernah aku alami, bahasa yang didengar sama kata,sama pengucapan atau sama tulisan namun beda arti dengan bahasa orang di kampung atau di kabupaten sebelah. Aku pernah mengalami hal itu, jadi istri pamanku itu orang Dayak asal dari Pahauman Kab.Landak baru beberapa hari tinggal di Ambawang, hari itu aku sedang berada dirumahnya di Ambawang ketika itu dia lagi mau memasak lalu dia menyuruh untuk mengambilkan sesuatu,
Tante: "cii taap'atn tante sampo" (ci ambilkan tante sampo)
Aku: "ok", sambil mengambil sampo lalu menyodorkan kearah tanteku itu, spontan ekspresi wajahnya berubah kebingungan
Aku: "diahe te?" (Kenapa te?) 
Tante: "sampo bah ci untu' basuman, buke sampo nang nia" (sampo ci untuk memasak bukan shampo yang ini)
Aku: heh?, Muka bingung
Tante: "niaa ha nang nia bah", sambil mengangkat panci itu kearahku.
Aku: "lahhh kan nang koa panci te buke sampo, sampo koa untu' bagunse" (lah kan yang itu panci te bukan shampo, kalau shampo untuk keramas), jawabku sambil tertawa
Tante: "ka kampokng kami nang nia koa namanya sampo" (di kampung tante ini namanya panci), sambil mengangkat panci itu. Dan setelah itu saya pun spontan tertawa, sampai tanteku menatapku sinis hehe. Seingatku hanya itu pengalaman salah paham bahasa yang aku alami di Pontianak
   Lain halnya dengan pengalamanku di Sulawesi, waktu itu aku masih belajar bahasa bugis, jadi aku mau bercerita pada pamanku kalau dijalan tadi aku kehujanan aku bercerita kalau aku singgah berteduh,
Aku : "behh om singgah ka tadi macinnong di SPBU" seketika pamanku tertawa, aku bingung kenapa dia tertawa lalu,
Aku: "kenapa tertawa om? Ada yang salah?"
Paman: "ci maccinong dan macinnong itu beda, kalau maccinong itu berteduh tapi kalau macinnong itu bening. Nah tadi kamu bilang kalau kamu singgah macinnong berarti kamu singgah bening".
Aku diam mencermati apa yang dikatakan om ku, setelah itu baru aku sadar ternyata aku salah menggunakan huruf N dan huruf C.
  Hari itu dikelas disaat semunya sudah datang eh ada temanku yang terlambat padahal biasanya dia tidak pernah terlambat, lalu aku bicara pada teman disamping
Aku: "eh itu saiful ndak pernah ji terlambat, balala na begini deh", temanku yang orang Makassar  kebingungan lalu dia bertanya
Teman: "kenapa to seng na balala ci?"
Aku: "iyaa ndak biasanya begini" Teman:"iyaa massuku saya kenapa na mu bilang balala i?"
Aku:"ya kan dia jarang terlambat, balala na tuh"
teman:"apa memang artinya balala dalam bahasa bugis ci?"
Aku: " ya jarang", teman saya tepok jidak lalu bicara
Teman: "serius nah ci bingung ka apa tadi mubilang kenapa malah balala mu bilang"
Aku: "kenapa memang kah?"
Teman: "cii kalo balala disini artinya Rakus".
Aku baru sadar kenapa tadi temanku kebingungan ternyata bahasa ku memang tidak nyambung jika dipakai di Makassar.
   Nah kadang kita lupa saat menggunakan bahasa kita ditempat umum atau ditempat lain, yang ternyata ditempat itu ada kata yang sama namun beda makna. Itulah alasan kenapa kita harus bisa berbahasa Indonesia karena kita tinggal di Negara yang beragam suku bangsa dan beragam bahasa dengan adanya bahasa negara atau bahasa kesatuan akan mempermudah komunikasi dan mengurangi terjadinya kesalahpahaman. Sekian cerita pengalaman kesalahpahaman bahasa dariku,
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh😊
 
 
 


Senin, 16 September 2019

Kampung halaman dengan berbagai ragam

Ini tentang Kampung Halamanku.
 Dusun Lintang Batang, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat itu adalah tempat dimana istanaku berada.
  Aku pernah tinggal ±4 tahun di Sulawesi Selatan tapi setiap hari aku seakan merindukan kampung ku, kenapa? Karena disana aku menemukan kedamaian, rasa solidaritas, keberagaman, dan banyak lagi.
  Kampungku adalah kampung yang dimana penduduknya mayoritas orang Dayak, namun tak sedikit ada pendatang yang kemudian menikah dan menetap disana jadi sekarang di kampungku kalian akan menjumpai banyak orang dengan suku Bugis, suku Jawa, suku Madura, atau Tionghoa.
  Keberagaman suku itu tidak melunturkan budaya Dayak yang sudah melekat di hidup penduduk-penduduknya apalagi penduduk yang sudah lansia, salah satu budaya yang ada di kampungku yaitu acara syukuran baik syukuran seperti apapun nama acara itu ialah Tampukng Tawar, atau acara yang dilakukan setelah 3 hari pemakaman yaitu acara Niga Ari atau Ngalapasi'.
  Di kampungku sangat taat dengan hukum adat, apabila ada masalah yang mencoreng nama kampung maka orang yang membuat masalah tersebut harus menerima hukuman adat yang diberikan, dan dikampungku pula orang Dayak dikenal dengan orang yang beradat karena apapun yang dilakukan itu harus beradat, beradat seperti bagaimana seharusnya perlakuan atau sopan santun orang yang muda kepada yang lebih tua. Ada banyak adat dan budaya dikampungku.
  Bahasa Dayak yang digunakan dikampungku adalah Dayak Ba Ahe atau biasa orang sebut Dayak Kanayatn.
  Salah satu yang aku suka dari kampungku adalah rasa saling solidaritas antar sesama yang beragama atau suku yang berbeda, saling kerja sama, saling membantu, saling peduli itu sangat dijunjung tinggi oleh orang-orang dikampungku.
  Tentang mata pencarian atau pekerjaan orang-orang dikampungku sedikit miris, kenapa aku katakan seperti itu? Karena dikampungku sekarang susah untuk mencari pekerjaan tetap. Mau menoreh pohon karet sekarang karet dihargai sangat murah, adapun yang masih noreh hanya sebagian orang saja, mau berladang atau berkebun sekarang ladang mulai di alih fungsikan sebagai lahan untuk membangun sutet dan sebagainya, mau bertani juga sangat susah dibelakang rumah tanah nya tergolong tidak cocok untuk dijadikan lahan bertani kalaupun mau bertani perlu ke seberang sungai ambawang yang jaraknya lumayan jauh dari jalan raya dan pemukiman, karena hal itu tidak jarang berbagai macam hama menyerang tanaman para petani. Ada pula beberapa orang yang beruntung bisa bekerja di perusahaan sawit namun peluang itu minim bagi masyarakat dikampungku, alasannya karena pendidikan lah. Padahal kalau mereka membangun perusahaan di tanah masyarakat yang mereka beli tapi sebelum itu mereka berjanji bahwa membangun perusahaan juga sebagai lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal, namun tidak sesuai janji masyarakat berbicara tidak dihiraukan.
  Sisi unik dari masyarakat dikampungku yaitu pekerjaan musiman seperti beberapa bulan kemarin tiba-tiba ada orang China dari singkawang yang memberitahu masyarakat bahwa dia mau mencari atau membeli duri dari tanaman kait-kait ia berani membeli duri itu dengan harga Rp.35.000,-/Kg. Karena berita itu orang yang ditemui orang China itu  mulai menyebarkan kepada masyarakat lain bahwa tanaman kait-kait itu harganya lumayan besar, esok hari nya masyarakat beramai-ramai mencari tanaman kait-kait itu, mereka saling bekerja sama, saling membantu, dan tentunya saling menjaga dan melindungi. Karena tanaman itu hanya ditemui di hutan atau di kebun yang sudah ditumbuhi pohon-pohon besar, mereka akan bergotong royong untuk mendapatkan tanaman itu. Pada waktu itu memang sangat ramai orang-orang menjadikan itu sebagai mata pencarian mereka namun lama kelamaan orang yang membeli tanaman itu mulai menyudahi jual beli itu dengan alasan mereka sudah sangat banyak menerima pasokan dari masyarakat dan juga tanaman itu sudah mulai susah untuk dicari. Alhasil masyarakat kembali memutar otak bagaimana caranya mereka punya pekerjaan tetap.
  Kampungku bukanlah kampung yang ada dipelosok atau didaerah pegunungan, tapi kampungku berada di daerah yang tidak jauh dari kota dan bahkan dilalui jalan Trans Kalimantan, setiap hari di depan rumah kami lewat mobil-mobil atau bus-bus besar baik yang berasal dari luar kota maupun luar negeri.
  Untuk kampungku semoga bisa menjadi kampung yang diimpikan masyarakatnya

Senin, 09 September 2019

Tentang Saya

Haii.
   
  Ini tentang saya :) Pertama pasti yang diperkenalkan itu siapa nama, iyakan? nah kenalin nama saya SUCI AMALIA PRATIWI, kalian bisa panggil saya Cici, Uci, atau Suci.
  Saya lahir di Pontianak, 14 Februari 2001. Alamat saya di Desa Teluk Bakung, Kec. Sungai Ambawang. Kalau kata teman saya dan saya juga sedikit setuju dengan teman saya yang mengatakan kalau hobi saya itu rebahan hehee, tapi sebenarnya saya lebih suka membaca novel dan nonton film.
  Riwayat pendidikan SD dan SMP di Sungai Ambawang, lanjut SMA di Wajo Sulawesi Selatan dan tamat SMA di tahun 2018. Setelah tamat SMA mencoba untuk lanjut ke jenjang perguruan tinggi atau kuliah, lalu mencoba beberapa jalur masuk seperti SNMPTN, SPAN, dan SBMPTN di tahun 2018.
  Jalur SNMPTN dan SPAN rata-rata pilih jurusan yang mengarah ke kesehatan karena keinganan ayah dan juga saya lebih suka kesehatan tapi ternyata ibu saya gak setuju dan alhasil saya gak lolos di kedua jalur masuk itu, ternyata ibu saya lebih ingin saya jadi guru sedangkan saya gak suka jadi guru. Tapi karena saya putus asa karena gagal dijalur SNMPTN dan SPAN, saya mencoba daftar SBMPTN dan memilih Universitas Negeri Makassar adapun jurusan yang saya pilih yaitu :
1. Pendidikan IPA
2. Pendidikan Kimia
seminggu sebelum ujian SBMPTN setiap hari saya pelajari materi kimia, fisika, biologi di SMA dan contoh-contoh soal saintek tahun-tahun sebelumnya yang saya dapat di internet.
  Setelah ujian SBMPTN esok hari nya saya berangkat ke rumah di Pontianak, ketika pengumuman SBMPTN keluar saya masih di Pontianak ternyata keluarga yang di Makassar sudah mengetahui bahwa saya lulus SBMPTN di jurusan Pendidikan IPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Makassar dan spontan mereka langsung menghubungi saya agar kembali ke Makassar untuk persiapan berkas-berkas yang diperlukan. Orangtua dan keluarga di Pontianak mengizinkan saya untuk kembali lagi ke Makassar untuk kuliah.
   Saya kembali ke Makassar, ikut berbagai kegiatan seperti Ondesk kampus, PMB Universitas, PMB fakultas, PMB Prodi Pend.IPA, dan saya resmi jadi mahasiswa UNM 2018 serta kuliah perdana tanggal 20 agustus 2018 di prodi Pend.IPA, FMIPA, UNM.
   Kuliah saya jalani selama 1 semester. Kuliah, praktikum, kerja laporan, UTS, UAS, event-event prodi, kegiatan prodi, sudah dilewati selama 1 semester itu hingga tiba hasil nya Alhamdulillah ipk nya 3.78 cukup memuaskan. Libur pun tiba, tanggal 22 desember 2018 saya pulang ke Pontianak sekalian kumpul-kumpul sama orangtua, adek, juga keluarga besar ibu. Tanggal 22 januari 2019 berencana untuk kembali ke Makassar, tapi terjadi bencana tanah longsor dan banjir bandang di Gowa tidak jauh dari kampus dan kos saya, yang pada akhirnya membuat saya dan keluarga takut dan ragu untuk mengizinkan saya kembali ke Makassar.
   Alhasil saya berhenti kuliah di UNM, namun saya masih berkeinginan untuk kuliah dan keluarga saya tetap mendukung saya hingga akhirnya di bulan mei saya mencoba untuk mendaftar UM-PTKIN dan Alhamdulillah Allah masih memberi saya kesempatan untuk kuliah saya lulus di Prodi Pend. Agama Islam, FTIK, IAIN pontianak.
Saya berharap bisa tetap bertahan dan lulus di IAIN Pontianak, sekian dari saya terima kasih😁