Ini tentang Kampung Halamanku.
Dusun Lintang Batang, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat itu adalah tempat dimana istanaku berada.
Aku pernah tinggal ±4 tahun di Sulawesi Selatan tapi setiap hari aku seakan merindukan kampung ku, kenapa? Karena disana aku menemukan kedamaian, rasa solidaritas, keberagaman, dan banyak lagi.
Kampungku adalah kampung yang dimana penduduknya mayoritas orang Dayak, namun tak sedikit ada pendatang yang kemudian menikah dan menetap disana jadi sekarang di kampungku kalian akan menjumpai banyak orang dengan suku Bugis, suku Jawa, suku Madura, atau Tionghoa.
Keberagaman suku itu tidak melunturkan budaya Dayak yang sudah melekat di hidup penduduk-penduduknya apalagi penduduk yang sudah lansia, salah satu budaya yang ada di kampungku yaitu acara syukuran baik syukuran seperti apapun nama acara itu ialah Tampukng Tawar, atau acara yang dilakukan setelah 3 hari pemakaman yaitu acara Niga Ari atau Ngalapasi'.
Di kampungku sangat taat dengan hukum adat, apabila ada masalah yang mencoreng nama kampung maka orang yang membuat masalah tersebut harus menerima hukuman adat yang diberikan, dan dikampungku pula orang Dayak dikenal dengan orang yang beradat karena apapun yang dilakukan itu harus beradat, beradat seperti bagaimana seharusnya perlakuan atau sopan santun orang yang muda kepada yang lebih tua. Ada banyak adat dan budaya dikampungku.
Bahasa Dayak yang digunakan dikampungku adalah Dayak Ba Ahe atau biasa orang sebut Dayak Kanayatn.
Salah satu yang aku suka dari kampungku adalah rasa saling solidaritas antar sesama yang beragama atau suku yang berbeda, saling kerja sama, saling membantu, saling peduli itu sangat dijunjung tinggi oleh orang-orang dikampungku.
Tentang mata pencarian atau pekerjaan orang-orang dikampungku sedikit miris, kenapa aku katakan seperti itu? Karena dikampungku sekarang susah untuk mencari pekerjaan tetap. Mau menoreh pohon karet sekarang karet dihargai sangat murah, adapun yang masih noreh hanya sebagian orang saja, mau berladang atau berkebun sekarang ladang mulai di alih fungsikan sebagai lahan untuk membangun sutet dan sebagainya, mau bertani juga sangat susah dibelakang rumah tanah nya tergolong tidak cocok untuk dijadikan lahan bertani kalaupun mau bertani perlu ke seberang sungai ambawang yang jaraknya lumayan jauh dari jalan raya dan pemukiman, karena hal itu tidak jarang berbagai macam hama menyerang tanaman para petani. Ada pula beberapa orang yang beruntung bisa bekerja di perusahaan sawit namun peluang itu minim bagi masyarakat dikampungku, alasannya karena pendidikan lah. Padahal kalau mereka membangun perusahaan di tanah masyarakat yang mereka beli tapi sebelum itu mereka berjanji bahwa membangun perusahaan juga sebagai lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal, namun tidak sesuai janji masyarakat berbicara tidak dihiraukan.
Sisi unik dari masyarakat dikampungku yaitu pekerjaan musiman seperti beberapa bulan kemarin tiba-tiba ada orang China dari singkawang yang memberitahu masyarakat bahwa dia mau mencari atau membeli duri dari tanaman kait-kait ia berani membeli duri itu dengan harga Rp.35.000,-/Kg. Karena berita itu orang yang ditemui orang China itu mulai menyebarkan kepada masyarakat lain bahwa tanaman kait-kait itu harganya lumayan besar, esok hari nya masyarakat beramai-ramai mencari tanaman kait-kait itu, mereka saling bekerja sama, saling membantu, dan tentunya saling menjaga dan melindungi. Karena tanaman itu hanya ditemui di hutan atau di kebun yang sudah ditumbuhi pohon-pohon besar, mereka akan bergotong royong untuk mendapatkan tanaman itu. Pada waktu itu memang sangat ramai orang-orang menjadikan itu sebagai mata pencarian mereka namun lama kelamaan orang yang membeli tanaman itu mulai menyudahi jual beli itu dengan alasan mereka sudah sangat banyak menerima pasokan dari masyarakat dan juga tanaman itu sudah mulai susah untuk dicari. Alhasil masyarakat kembali memutar otak bagaimana caranya mereka punya pekerjaan tetap.
Kampungku bukanlah kampung yang ada dipelosok atau didaerah pegunungan, tapi kampungku berada di daerah yang tidak jauh dari kota dan bahkan dilalui jalan Trans Kalimantan, setiap hari di depan rumah kami lewat mobil-mobil atau bus-bus besar baik yang berasal dari luar kota maupun luar negeri.
Untuk kampungku semoga bisa menjadi kampung yang diimpikan masyarakatnya
Dusun Lintang Batang, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat itu adalah tempat dimana istanaku berada.
Aku pernah tinggal ±4 tahun di Sulawesi Selatan tapi setiap hari aku seakan merindukan kampung ku, kenapa? Karena disana aku menemukan kedamaian, rasa solidaritas, keberagaman, dan banyak lagi.
Kampungku adalah kampung yang dimana penduduknya mayoritas orang Dayak, namun tak sedikit ada pendatang yang kemudian menikah dan menetap disana jadi sekarang di kampungku kalian akan menjumpai banyak orang dengan suku Bugis, suku Jawa, suku Madura, atau Tionghoa.
Keberagaman suku itu tidak melunturkan budaya Dayak yang sudah melekat di hidup penduduk-penduduknya apalagi penduduk yang sudah lansia, salah satu budaya yang ada di kampungku yaitu acara syukuran baik syukuran seperti apapun nama acara itu ialah Tampukng Tawar, atau acara yang dilakukan setelah 3 hari pemakaman yaitu acara Niga Ari atau Ngalapasi'.
Di kampungku sangat taat dengan hukum adat, apabila ada masalah yang mencoreng nama kampung maka orang yang membuat masalah tersebut harus menerima hukuman adat yang diberikan, dan dikampungku pula orang Dayak dikenal dengan orang yang beradat karena apapun yang dilakukan itu harus beradat, beradat seperti bagaimana seharusnya perlakuan atau sopan santun orang yang muda kepada yang lebih tua. Ada banyak adat dan budaya dikampungku.
Bahasa Dayak yang digunakan dikampungku adalah Dayak Ba Ahe atau biasa orang sebut Dayak Kanayatn.
Salah satu yang aku suka dari kampungku adalah rasa saling solidaritas antar sesama yang beragama atau suku yang berbeda, saling kerja sama, saling membantu, saling peduli itu sangat dijunjung tinggi oleh orang-orang dikampungku.
Tentang mata pencarian atau pekerjaan orang-orang dikampungku sedikit miris, kenapa aku katakan seperti itu? Karena dikampungku sekarang susah untuk mencari pekerjaan tetap. Mau menoreh pohon karet sekarang karet dihargai sangat murah, adapun yang masih noreh hanya sebagian orang saja, mau berladang atau berkebun sekarang ladang mulai di alih fungsikan sebagai lahan untuk membangun sutet dan sebagainya, mau bertani juga sangat susah dibelakang rumah tanah nya tergolong tidak cocok untuk dijadikan lahan bertani kalaupun mau bertani perlu ke seberang sungai ambawang yang jaraknya lumayan jauh dari jalan raya dan pemukiman, karena hal itu tidak jarang berbagai macam hama menyerang tanaman para petani. Ada pula beberapa orang yang beruntung bisa bekerja di perusahaan sawit namun peluang itu minim bagi masyarakat dikampungku, alasannya karena pendidikan lah. Padahal kalau mereka membangun perusahaan di tanah masyarakat yang mereka beli tapi sebelum itu mereka berjanji bahwa membangun perusahaan juga sebagai lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal, namun tidak sesuai janji masyarakat berbicara tidak dihiraukan.
Sisi unik dari masyarakat dikampungku yaitu pekerjaan musiman seperti beberapa bulan kemarin tiba-tiba ada orang China dari singkawang yang memberitahu masyarakat bahwa dia mau mencari atau membeli duri dari tanaman kait-kait ia berani membeli duri itu dengan harga Rp.35.000,-/Kg. Karena berita itu orang yang ditemui orang China itu mulai menyebarkan kepada masyarakat lain bahwa tanaman kait-kait itu harganya lumayan besar, esok hari nya masyarakat beramai-ramai mencari tanaman kait-kait itu, mereka saling bekerja sama, saling membantu, dan tentunya saling menjaga dan melindungi. Karena tanaman itu hanya ditemui di hutan atau di kebun yang sudah ditumbuhi pohon-pohon besar, mereka akan bergotong royong untuk mendapatkan tanaman itu. Pada waktu itu memang sangat ramai orang-orang menjadikan itu sebagai mata pencarian mereka namun lama kelamaan orang yang membeli tanaman itu mulai menyudahi jual beli itu dengan alasan mereka sudah sangat banyak menerima pasokan dari masyarakat dan juga tanaman itu sudah mulai susah untuk dicari. Alhasil masyarakat kembali memutar otak bagaimana caranya mereka punya pekerjaan tetap.
Kampungku bukanlah kampung yang ada dipelosok atau didaerah pegunungan, tapi kampungku berada di daerah yang tidak jauh dari kota dan bahkan dilalui jalan Trans Kalimantan, setiap hari di depan rumah kami lewat mobil-mobil atau bus-bus besar baik yang berasal dari luar kota maupun luar negeri.
Untuk kampungku semoga bisa menjadi kampung yang diimpikan masyarakatnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar